Gahara, yang duduk di salah satu perahu belakang, mendengarkan percakapan itu dengan wajah pura-pura serius. Dalam hati, ia tersenyum licik. "Semoga mereka cukup bodoh untuk maju lebih dalam," pikirnya, puas telah memberi informasi kepada perampok.

Ketika perahu-perahu itu semakin dekat ke perkampungan perampok, suasana menjadi semakin tegang. Ayunga mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti. Pemuda yang menjadi penunjuk arah menunjuk ke depan, suaranya berbisik pelan.

"Itu di sana. Markas mereka ada di balik hutan kecil itu."

Ayunga menatap ke arah yang ditunjukkan, melihat cahaya lentera-lentera di kejauhan. "Kita harus mendekat tanpa suara. Siapkan jaring di perahu-perahu depan. Jika mereka menyerang dari darat, kita akan menghalau mereka dengan itu."

"Semua tetap waspada," katanya dengan nada tegas kepada rombongannya. "Mereka mungkin tahu kita datang, tapi kita tidak boleh mundur."

Seorang pemuda di perahu lain memegang erat tombaknya. "Apa yang harus kita lakukan jika mereka menyerang, Tetua? Kita punya keuntungan di air, bukan?"

Ayunga menatap pemuda itu dengan sorot mata tegas. "Keunggulan tidak berarti jika mereka sudah menyiapkan jebakan. Kita tetap harus berhati-hati."

Uban mengangguk, memberikan perintah kepada anak buahnya. "Jangan ada yang bergerak tanpa aba-aba. Fokus kita adalah Jelita. Begitu kita mendapatkannya, kita segera kembali ke sungai."

Seorang pemuda di perahu belakang tampak gemetar. "Tapi jika mereka sudah siap menyergap kita? Apa yang kita lakukan?"

Ayunga menatap pemuda itu dengan tajam. "Kalau itu terjadi, kita lawan mereka. Dengan cara apa pun yang diperlukan."

Namun, ketegangan di udara semakin terasa ketika rombongan perahu Yaksa mendekati tikungan pertama sungai. Ayunga berhenti sejenak, mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk menghentikan semua perahu.

"Diam," katanya. "Ada sesuatu yang tidak beres."

Ketika perahu-perahu mendekati hutan kecil, suara peluit tiba-tiba terdengar dari tepi sungai. Lentera-lentera di markas perampok berkedip-kedip, dan suara teriakan mulai bergema.

"Mereka tahu kita di sini!" seru salah satu prajurit Yaksa, suaranya penuh kepanikan.

Dari balik semak-semak di tepi sungai, para perampok muncul dengan senjata mereka. Panah meluncur ke arah perahu-perahu Yaksa, menghantam air dengan suara berdebuk. Beberapa pemuda Yaksa dengan sigap mengangkat tameng kayu untuk melindungi diri mereka.

"Pertahankan barisan!" teriak Uban.

Perahu-perahu Yaksa membalas dengan melemparkan tombak dan jaring ke arah para perampok. Jaring-jaring itu melayang di udara sebelum jatuh menutupi beberapa perampok yang mencoba menyerang dari tepi sungai.

Ayunga berdiri di perahu depannya, mengangkat tombak dengan penuh amarah. "Maju! Jangan berhenti sampai kita sampai ke Jelita!"

Namun, para perampok telah mempersiapkan jebakan. Mereka melepaskan jaring besar ke air, menjebak beberapa perahu Yaksa dan membalikkannya. Beberapa orang Yaksa jatuh ke sungai, berusaha berenang ke tepian sambil menghindari serangan.

"Ayah, kita harus mundur!" seru seorang pemuda Yaksa, wajahnya penuh ketakutan.

"Tidak!" bentak Ayunga. "Kita tidak mundur! Kita selamatkan Jelita!"

Tiba-tiba, suara keras menghentak dari arah hutan di sepanjang tepi sungai. Panah-panah meluncur lebih banyak dari sela-sela pepohonan, terbang menuju rombongan perahu. Teriakan menggema ketika salah satu pria Yaksa jatuh, dadanya tertusuk panah.

"Waspadalah!" teriak Ayunga dengan lantang.

Perahu-perahu Yaksa mulai bergerak lebih cepat, mencoba menghindari hujan panah. Para nelayan yang membawa tombak mencoba melawan, melemparkan senjata mereka ke arah musuh yang bersembunyi di balik semak. Namun, panah-panah terus menghujani tanpa henti.

"Ini jebakan!" seru salah satu pria Yaksa, wajahnya penuh ketakutan.

"Tenang!" Ayunga membalas. "Terus maju! Jangan biarkan mereka menghentikan kita!"

Tapi sebelum mereka bisa maju lebih jauh, jaring besar yang tersembunyi di bawah air tiba-tiba terangkat. Jaring itu menangkap tiga perahu sekaligus, menjebak para pria Yaksa di dalamnya. Mereka berteriak panik, mencoba memotong jaring dengan pisau kecil, namun sia-sia.

"Lepaskan kami!" teriak seorang nelayan yang berusaha memotong jaring.

Dari sisi sungai, perampok muncul satu per satu. Mereka tertawa mengejek, membawa tombak, panah, dan kapak batu.

Di dalam penjara, Lynx mendengar suara pertempuran dari kejauhan. Matanya menyipit tajam, mengetahui bahwa ini adalah kesempatan langka untuk bertindak.

"Jelita," bisiknya, menoleh ke arah wanita itu. "Kita harus pergi sekarang."

"Tapi bagaimana? Kau masih terikat..." Jelita terdiam ketika melihat Lynx mulai mengepalkan tangannya. Dengan kekuatannya, ia meretakkan tali yang mengikat tangan dan kakinya dengan mudah, serpihan tali jatuh ke tanah.

"Bagaimana kau bisa..." Jelita menatap Lynx dengan mata penuh keterkejutan.

"Nanti aku jelaskan. Sekarang, kita harus keluar."

Lynx mengangkat Jelita yang masih lemah ke punggungnya. Dengan kelincahan luar biasa, ia melompat keluar dari jendela kecil di belakang ruangan.

Jelita yang merasakan tubuhnya dipegang Lynx merasa malu, tubuhnya saat ini tidak tertutupi pakaian sehelaipun.

"Mereka sibuk di sungai, ada yang menyerang," bisik Lynx sambil berlari di antara bayangan. "Ini kesempatan kita."

Ia bergerak cepat, menghindari penjaga yang sedang tergesa-gesa menuju sungai. Setiap langkahnya terencana dengan baik, memastikan mereka tidak terlihat.

Saat ada kesempatan, Lynx memukul salah satu penjaga yang sendirian dan mengambil pakaiannya. "Gunakan ini, meski tidak nyaman tapi cukup untuk menutupi tubuhmu."

Jelita tersipu malu. Dia segera memakai pakaian yang diberikan. Terasa besar dan tidak nyaman, namun Jelita tidak terlalu memikirkannya.

Kemudian mereka melanjutkan pelarian. Ketika mereka mencapai tepi perkampungan, Lynx berhenti sejenak, memastikan jalan di depannya aman. "Pegangan yang erat," katanya sambil menguatkan pegangannya pada wanita itu.

Dengan satu lompatan panjang, Lynx melintasi pagar kayu yang tinggi, mendarat di luar perkampungan tanpa suara. Ia melanjutkan larinya ke dalam hutan, membawa Jelita menjauh dari perkampungan yang kini dipenuhi teriakan dan suara senjata.

"Mereka akan mencari kita," bisik Jelita dengan suara penuh ketakutan.

Lynx mengangguk pelan. "Biar saja. Yang penting sekarang adalah membuatmu aman."

Dengan langkah cepat, ia membawa Jelita semakin jauh ke dalam hutan, meninggalkan perkampungan perampok yang kini tengah kacau balau tanpa mengetahui kekacauan tersebut akibat serangan Yaksa di sungai yang ingin menyelamatkan mereka.

Ayunga berteriak dengan kemarahan yang membara. "Yaksa, bertarunglah! Kita tidak akan menyerah kepada mereka!"

Pria-pria Yaksa yang masih bebas mulai melawan. Mereka melemparkan tombak dan menyerang dengan dayung, melompat ke air untuk menghadapi musuh di tepi sungai. Namun, jumlah mereka terlalu sedikit dibandingkan perampok yang menguasai wilayah itu.

Salah satu perampok besar maju ke arah Ayunga, membawa kapak besar. "Kau pikir nelayan sepertimu bisa melawan kami?" ejeknya.

Ayunga mengayunkan tombaknya, memotong udara dengan gerakan tajam. "Aku tidak butuh banyak bicara untuk menunjukkan siapa kami!"

Kapak itu meluncur ke arah Ayunga, namun ia berhasil menghindar dengan lincah. Tombaknya menusuk ke arah musuh, melukai bahu perampok itu. Tapi sebelum Ayunga bisa menyerang lagi, panah lain meluncur dari hutan, mengenai lengan kanannya.

Ayunga jatuh ke lututnya, mengerang kesakitan. "Tidak..." gumamnya, melihat orang-orangnya mulai kehilangan semangat.

Langit malam dihiasi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di atas hutan. Namun, di kejauhan, suara benturan, teriakan, dan gemuruh air sungai terus terdengar, memecah keheningan alam. Lynx berlari dengan sigap, membawa Jelita yang kini tampak lebih sadar dan siaga.

Jelita menoleh ke belakang, melihat sekilas bayangan pertempuran yang terjadi di sepanjang sungai. Matanya membelalak ketika ia mengenali pakaian dan lambang di perahu-perahu yang digunakan.

"Itu... itu mereka!" serunya dengan nada panik.

Lynx meliriknya sekilas. "Mereka siapa?"

"Suku Yaksa! Itu orang-orangku! Ayahku! Aku melihat mereka!" tangis Jelita pecah saat ia menatap ke arah sungai yang berkilauan diterangi lentera.

Lynx memperlambat langkahnya, berhenti sejenak di balik pohon besar untuk memastikan mereka tidak terdeteksi. "Apa kau yakin itu mereka?"

Jelita mengangguk cepat, wajahnya penuh kekhawatiran. "Pakaian mereka. Perahu-perahu kecil itu. Aku tahu itu milik Yaksa. Aku juga melihat Ayahku!"

Lynx mengernyit, mencoba mencerna situasi. "Apa mereka mencoba menyelamatkanmu?"

"Ya! Itu pasti mereka! Tapi..." Jelita berhenti berbicara, suara isak tangisnya mulai terdengar lagi. "Mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi. Mereka tidak akan bisa melawan perampok-perampok itu."

